28 Agustus 2025

Ahli Warta – Seorang akademisi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Doktor Hamzah H. Wulakada menekankan pentingnya kajian ilmiah terhadap praktik konservasi laut yang berbasis kearifan lokal. Menurutnya, kajian semacam ini diperlukan agar metode yang diwariskan oleh masyarakat adat tetap dapat digunakan dan relevan dengan kondisi masa kini.

Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah diskusi buku yang mengangkat tema konservasi laut berbasis kearifan lokal, bertajuk “Kabar Baik dari Laut Wallacea”. Buku tersebut ditulis oleh seorang jurnalis lokal, Yapi Manuleus, dan membahas konservasi di wilayah Kabupaten Lembata serta Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur, NTT.

Hamzah mengungkapkan bahwa praktik kearifan lokal dalam menjaga ekosistem laut masih memiliki nilai yang sangat berharga. Namun, ia juga menilai bahwa tanpa adanya pendekatan ilmiah, praktik tersebut bisa saja kehilangan relevansinya di tengah perkembangan zaman. Oleh karena itu, intervensi ilmiah diperlukan agar praktik ini tetap bertahan dan diakui dalam ruang publik.

Menurutnya, kajian akademik mengenai konservasi laut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antara masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dalam konteks yang dibahas dalam buku ini, hubungan yang dimaksud adalah interaksi antara masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan dengan mereka yang bermukim di kawasan pesisir.

Sebagai akademisi, Hamzah berharap akan ada lebih banyak tulisan maupun penelitian yang mendalami konservasi berbasis kearifan lokal. Ia menilai bahwa penelitian semacam ini tidak hanya membantu mempertahankan nilai-nilai budaya, tetapi juga memberikan wawasan lebih luas tentang bagaimana konservasi dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Selain itu, Hamzah mengapresiasi penerbitan buku “Kabar Baik dari Laut Wallacea” sebagai bagian dari upaya memahami lebih dalam isu-isu konservasi laut di NTT. Menurutnya, buku ini dapat menjadi rujukan yang penting dalam diskusi mengenai keberlanjutan ekosistem laut yang dikelola oleh masyarakat setempat.

Meski demikian, ia juga menyampaikan saran kepada penulis agar tidak hanya berhenti pada bentuk tulisan. Menurutnya, mengolah bahan penelitian ke dalam format audio visual akan lebih efektif dalam menjangkau masyarakat luas. Saat ini, media digital telah menjadi sarana utama dalam menyebarkan informasi, sehingga dokumentasi berbentuk video atau film pendek akan lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, Hamzah juga menyoroti pentingnya buku ini sebagai bahan bacaan bagi generasi muda. Ia berharap bahwa buku tersebut dapat didistribusikan ke sekolah-sekolah, khususnya di wilayah Lembata dan Solor, tempat di mana riset ini dilakukan. Menurutnya, pemahaman tentang konservasi sejak usia dini sangat penting agar anak-anak memiliki kesadaran terhadap lingkungan dan kelestarian laut di daerah mereka.

Dengan semakin berkembangnya teknologi dan perubahan sosial, konservasi laut berbasis kearifan lokal menghadapi tantangan besar. Namun, melalui kajian ilmiah yang mendalam serta penyebaran informasi yang lebih luas, praktik ini dapat terus eksis dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi, jurnalis, serta masyarakat adat menjadi sangat penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut di NTT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *