
https://www.antaranews.com
Ahli Warta – Pada Selasa (17/12), Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, yang terletak di Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, kembali terimbas banjir rob dengan kedalaman mencapai 70 sentimeter. Kondisi ini telah berlangsung selama lima hari berturut-turut dan semakin memperburuk tantangan yang dihadapi oleh warga sekitar akibat meningkatnya frekuensi kejadian rob yang disebabkan oleh faktor perubahan iklim.
Haril (39), seorang penjaga kantin di Polsek Pelabuhan Sunda Kelapa, mengungkapkan bahwa air mulai meluap ke kawasan pelabuhan pada pukul 10.45 WIB, langsung mengalir ke sepanjang Jalan Lodan Raya, yang berada dekat dengan pelabuhan. Seiring dengan naiknya permukaan air, genangan di area tersebut mencapai ketinggian antara 30 hingga 40 sentimeter. Meskipun lalu lintas di jalan ini masih terpantau lancar, banyak pengendara yang harus mengurangi kecepatan kendaraan mereka untuk menghindari genangan tersebut.
Tak hanya mengganggu lalu lintas, banjir rob juga berdampak pada beberapa fasilitas, termasuk halaman Kantor PT Pelindo Regional Dua Pelabuhan Sunda Kelapa. Kantor pengelola pelabuhan tertua di Indonesia ini terendam air lebih dari 50 cm, bahkan area parkir kantor pun tak luput dari genangan air tersebut. Andy, seorang pekerja pelabuhan, menjelaskan bahwa air tersebut berasal dari Dermaga III Pelabuhan Sunda Kelapa dan sudah mencapai ketinggian yang cukup signifikan.
“Air ini datang dari Dermaga III dan mengalir sampai ke sini,” jelas Andy. Ia juga menambahkan bahwa pada hari Minggu (15/12), ketinggian air bahkan lebih tinggi daripada pada hari ini.
Meskipun aktivitas di pelabuhan terus berjalan, banjir yang melanda kawasan ini cukup mengganggu para pekerja. Banyak yang kesulitan untuk masuk ke tempat kerja karena akses menuju pelabuhan terendam air. “Kami kesulitan masuk kerja karena akses menuju pelabuhan tertutup banjir,” kata Andy. Meskipun sebagian besar barang diangkut dengan kendaraan besar yang tidak terpengaruh genangan, kesulitan akses ini tetap menjadi masalah bagi para pekerja yang harus melapor untuk bertugas.
Fenomena banjir rob ini terjadi akibat naiknya permukaan air laut, yang semakin sering terjadi sebagai dampak dari perubahan iklim. Dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian ini, baik masyarakat sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa maupun para pekerja pelabuhan semakin terbiasa dengan kondisi ini, meskipun tetap merasa terganggu.
Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu segera diterapkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya dengan memperbaiki dan memperkuat infrastruktur di kawasan pelabuhan yang rentan terhadap banjir rob. Selain itu, penataan kawasan juga penting untuk mengurangi dampak banjir dan mencegah kerugian lebih lanjut. Masyarakat juga perlu diberikan edukasi terkait cara menghadapi bencana banjir rob agar mereka dapat lebih siap menghadapi situasi serupa di masa depan.