
Sumber: antaranews.com
Ahli Warta – Pelestarian manuskrip kuno di Aceh menjadi perhatian serius bagi para peneliti sejarah dan budaya. Hermansyah, seorang peneliti Filologi Melayu-Aceh dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, mengusulkan agar Pemerintah Aceh mendirikan museum khusus manuskrip kuno sebagai langkah konkret dalam upaya perawatan dan dokumentasi peninggalan bersejarah.
Menurut Hermansyah, keberadaan manuskrip di Aceh masih belum terkelola dengan baik. Hingga saat ini, banyak manuskrip yang masih tersebar di berbagai tempat, termasuk koleksi pribadi masyarakat, tanpa dokumentasi yang memadai. Ia memperkirakan jumlah manuskrip yang ada di Aceh mencapai sekitar 10.000 naskah. Namun, dari jumlah tersebut, pemerintah hanya merawat sekitar 2.000 naskah.
Sebagian besar koleksi manuskrip yang dikelola pemerintah tersimpan di Museum Aceh dengan jumlah sekitar 1.800 naskah, sementara sekitar 300 manuskrip lainnya berada di Perpustakaan Wilayah Aceh. Sisanya, diperkirakan sekitar 8.000 manuskrip, masih berada di tangan masyarakat di berbagai daerah seperti Aceh Utara, Pidie, Aceh Barat, dan Nagan Raya.
Hermansyah menyayangkan kondisi sebagian besar manuskrip yang belum terawat dengan baik. Setiap tahun, jumlahnya semakin berkurang akibat berbagai faktor, termasuk kerusakan alami dan perpindahan kepemilikan. Ia mencontohkan bahwa beberapa manuskrip yang ditemukan di daerah tertentu, seperti Lampanah, Aceh Besar, tahun ini masih ada, tetapi pada tahun berikutnya sudah tidak ditemukan lagi. Keberadaannya yang berpindah tempat, baik ke kota lain maupun ke luar negeri, menjadi tantangan besar dalam upaya pelestarian.
Selain itu, kurangnya dokumentasi yang detail terhadap manuskrip yang telah dikoleksi pemerintah juga menjadi masalah. Ribuan manuskrip yang tersimpan di Museum Aceh hingga kini belum memiliki indeks yang jelas, sehingga menyulitkan pencarian informasi berdasarkan topik tertentu. Sebagai contoh, jika seseorang ingin meneliti tentang kuliner dalam manuskrip Aceh, ia tidak dapat dengan mudah menemukannya karena belum ada sistem indeks yang terstruktur.
Hermansyah menekankan bahwa manuskrip-manuskrip tersebut tidak hanya sekadar dikoleksi, tetapi juga harus dikaji lebih lanjut agar isinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber edukasi bagi masyarakat. Ia juga menilai bahwa program digitalisasi dan alih aksara sangat penting dilakukan agar informasi dalam manuskrip tersebut bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
Saat ini, banyak manuskrip Aceh yang masih menggunakan bahasa Aceh lama dan tulisan Arab Jawi, yang tidak semua orang dapat membacanya. Oleh karena itu, menurutnya, program alih aksara dan alih bahasa perlu segera dilaksanakan agar warisan sejarah ini dapat lebih dipahami oleh generasi masa kini dan mendatang.
Pendirian museum khusus manuskrip kuno dinilai menjadi solusi yang efektif dalam pelestarian warisan budaya ini. Museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pameran manuskrip, tetapi juga bisa menjadi pusat penelitian, digitalisasi, dan kajian filologi.
Selain itu, keberadaan museum ini juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Dengan mempromosikan manuskrip Aceh sebagai bagian dari kekayaan intelektual para ulama dan ilmuwan terdahulu, museum ini bisa menarik perhatian wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
Hermansyah berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan usulan ini dengan serius. Dengan adanya museum manuskrip kuno, pelestarian sejarah Aceh dapat dilakukan secara lebih sistematis, dan manfaatnya bisa dirasakan oleh generasi yang akan datang.